Aku dalam Waktu
Lisna Darniati
Kusisiri langkah demi langkah, yang perlahan memudar.
Saat kutoleh ke belakang,
tertinggal tapak berwarna merah
Jerit pilu membayang di balik
kabut.
Air mata membasahi pipi yang
lelah,
Raut putus asa tergambar jelas,
wajah suram dengan kantong mata
menghitam.
Kulanjutkan langkah ke dimensi
berbeda,
Saat kutoleh kembali ke belakang,
kulihat tapak berwarna putih.
Seulas senyum merekah di
wajahnya,
Tawa kecil hingga lepas
membingkai bahagia,
Raut cerah membuat matanya
menyipit,
menyimpan harap yang sederhana.
Kembali kulangkahkan kaki ke
lorong sepi.
Jejak tertanam begitu dalam di
alas sunyi.
Terbayang sosok bermata tajam,
wajah merah penuh amarah.
Tinju menghantam angin tanpa
arah,
seolah siap merobohkan siapa pun
yang mendekat.
Hingga kutatap ke depan,
sebuah cermin besar menghadang,
Menampilkan sosok yang begitu
kukenal,
Atau mungkin tak ingin kuakui.
Aku bertanya pada diri:
Apakah ia sekadar bayangan?
Atau kenyataan yang sesungguhnya?
Kini kusadari,
Sosok itu adalah diriku,
Diriku sebelum menjadi diriku
yang kini.
Melewati banyak fase yang tak
terhitung.
Hingga tiba di titik ini.
Titik untuk kembali melangkah.
Menyusuri jejak yang baru
Entah dalam suka,
atau dalam duka.
0 Komentar