Kini waktu
menunjukkan masuk dini hari
Tidak ada
pertanda, yang ada hanya sepi
Hanya bunyi
kipas angin di sisi yang bersedia menemani
Pintu belum
daku tutup, sengaja
Supaya sa punya
mata jadi saksi indah malam su bikin takjub
Mata bergerilya
tidak mau tenang
Pikiran pun
demikian
Kini, dia
sedang khawatir tentang nasib negeri ke depan
Juga nasib
perasaan yang dia juga bingung hendak dikata apaan
Malam sungguh
aneh
Bulan, bintang,
terang, tapi samar saja dia punya benerang
Kebanyakan
remang
Tapi, tenang
Pernah muncul
satu ide gila
Ketika kurindu
dengan hujan
Sore mendung,
berpikir pucuk dicinta ulam pun tiba
Hingga malam
tak kunjung turun adanya
Tepat dini hari
Hujan hadir
dengan tegas
Dentuman
sana-sini
Langsung kubuka
pintu bersorak gas
Karna malam
Izin, tak
kudapatkan
Yang tersisa
tinggal rindu yang terkurung
Raga yang
dingin
Hati yang panas
Perasaan yang
bimbang
Kini wa
ktu menunjukkan masuk dini hari
Tidak ada pertanda, yang ada hanya sepi
Hanya bunyi kipas angin i sisi yang bersedia menemani
Pintu belum daku tutup, sengaja
Supaya sa punya mata jadi saksi indah malam su bikin takjub
Mata bergerilya tidak mau tenang
Pikiran pun demikian
Kini, dia sedang khawatir tentang nasib negeri ke depan
Juga nasib perasaan yang dia juga bingung hendak dikata apaan
Malam sungguh aneh
Bulan, bintang, terang, tapi samar saja dia punya benerang
Kebanyakan remang
Tapi, tenang
Pernah muncul satu ide gila
Ketika kurindu dengan hujan
Sore mendung, berpikir pucuk dicinta ulam pun tiba
Hingga malam tak kunjung turun adanya
Tepat dini hari
Hujan hadir dengan tegas
Dentuman sana-sini
Langsung kubuka pintu bersorak gas
Karna malam
Izin, tak kudapatkan
Yang tersisa tinggal rindu yang terkurung
Raga yang dingin
Hati yang panas
Perasaan yang bimbang
0 Komentar